Minggu, 05 Juni 2011

TERJEMAHAN LONTAR ÇUNDARIGAMA



 TERJEMAHAN LONTAR ÇUNDARIGAMA
BAB I
OM AWIGNAM ASTU NAMA SIDHYAM
1e. Inilah çundarigama namanya, yang merupakan tatacara yang dibenarkan dalam melaksanakan ajaran Agama, dari sabda Sang Hyang Suksma Licin ( Hyang Widhi nan niskala dan Maha suci ), kepada para Rsi semuanya, sebagai pelaksana tatacara keagamaan diwilayah suatu Negara, dan yang patut dilaksanakan oleh masyarakat sewilayah bersangkutan semuanya, dengan tujuan agar tentramlah negara dan pemerintahan, demikian pula sejahteralah rakyatnya, sebab tata cara yang demikian itu, adalah suci dan sangatlah utama.
2e. Maka berkenanlah para Dewata semuanya, menerima puja persembahan suci itu, dan Brahma, Wisnu dan Içwara, karena telah dipuja oleh para para Resing langit. Lalu Sang Hyang Çiwa Budha berkenan merestui, betapa sabda Nya, adalah demikian.
3e. Wahai anakku para purohita semuanya, Çiwa dan Budha, dengarlah nasehatku ini olehmu anakku, bahwa dalam ajaran Agama Çundarigama yang merupakan tuntunan pelaksanaan pensucian isi dari Wariga Gemet, sebagai kehidupan dunia, wujud dalam memuja Sang Hyang Widhi, dan menjadi perantara bagi manusia untuk menyelamatkan dirinya, yang menjadi jalan/tuntunan dalam memohon Rahmat Hyang Widhi yang Maha Kuasa : Çundarigama ini diturunkan didunia dan diberikan kepada manusia, untuk mana menyebabkan manusia dapat menikmati kebahagiaan keutamaan, yaitu keselamatan yang terus menerus di alam tiga ini (bhur, bwah, swah ).
Itulah keutamaan yang amat mulia, bagi manusia, dan itulah yang menyebabkan langgengnya kesucian bagi negara dan rajanya. Mening, yaitu murnilah kebahagiaan para Purohita semuanya, dan makmurlah rakyatnya, gairah pula para pelajar-pelajarnya ; betapakah misalnya adalah sebagai beikut :
4.e Pada saat hari yang baik, yakni hari yang disebut sasucen Hyang, yang diikuti oleh para Dewata semuanya, para Gandarwa-gandarwi, Widyadara-widyadari, Resinglangit, dan diikuti pula oleh Hyang pitara yang telah disucikan, sehingga dapat mencapai alam Sorga, demikian pula para pitara yang masih dalam alam pitara loka kesemuanya itu ikut serta memanfaatkan waktu bersucian, beryoga semadi untuk keselamatan dunia, karenanya bersenanglah beliau, bersemayam didunia dan akasa. Maka menjadi sucilah dunia ini, seakan-akan melimpahkan ketentraman, baik terhadap manusia semuanya, maupun terhadap segala mahluk yang ditakdirkan didunia. Demikianlah maka manusiapun patutlah ikut serta melaksanakan cinta kasih seperti yang dilimpahkan oleh Hyang Widhi, berbakti dengan upacara yang disuguhkan kepada para Bhatara, demikianlah tata caranya.
5e. a.Purnama Sasih Kapat Beginilah prihalnya menurut perhitungan masa yaitu pada masa sasih kapat (oktober), pada saatnya bulan penuh(Purnama) maka beryogalah Bhatara Paramecwara, Sag Hyang Purusangkara, (setahun untuk Hyang Widhi sebagai Mahadewa dan Maha Purusa), manunggal dengan Bhatari(mewujudkan wisesa Nya), diikuti oleh golongan Dewa semuanya, serta golongan widyadara-widyadari dan Resing langit semuanya sejak dahulu kala. Dalam halnya yang demikian, sepatutnyalah orang-orang suci (Pandita dan pinandita), melakukan puja stuti dengan memakai tanda/busana sebagaimana mestinya, dan bersiap-siap melakukan puja bakti kehadapan Sang Hyang Candra. Demikian pula kepada Hyang Kawitan mengaturkan bebanten serba suci. Adapun yang dihaturkan kehadapan Hyang Ratih, (sebutan terhadap Hyang Widhi sebagai Soma), ialah :
Penek kuning, prayascita luwih, pangreresik, serta daging dalam penek itu, ialah ayam putih siyungan.
Adapun banten yang di Sor (bawah), ialah :
Segehan agung 1 soroh
Lain daripada itu, orang-orang (umat bersangkutan), hendaknya melakukan bhakti dengan muspa dihadapan Sanggar dan Perhyangan, demikian juga pada Pelinggih-pelinggih di pedarman, yang menjadi penyungsungnya. Akhirnya pada malam hari itu usahakanlah melakukan renungan suci, dengan dyana dan samadi.
b.Tilem Sasih Kapat
selanjutnya pada saat datangnya hari Tilem sasih Kapat, patut melakukan upacara pemusnah kecemaran-kecemaran diri, yang disebut “Pamugpug raga roga”, dengan jalan menghaturkan banten wangi di Sanggar Parhyangan, sedangkan yang patut dihaturkan diatas tempat tidur, ialah sesuatu yang dapat mewujudkan ketenangan hati. Antara lain; bebanten sesayut Widyadari, yang umum disebut bebanten Dedari, sebanyak satu soroh, untuk memuja Hyang Widyadara-widyadari.
Adapun tujuan menghaturkan bebanten itu, ialah memohon ketenangan pikiran, didalam melakukan tugas hidup sehari-hari, khususnya bagi kaum wanita, disebut kepatibratan. Karena itulah, maka pada tengah malamnya disarankan untuk melakukan “Monabrata” yakni memusatkan segenap pikiran untuk sesaat dan mengarahkan kepada Sang Hyang Widhi. Jika hal itu tepat dapat dilakukan, maka pahalanya akan dapat mensucikan kecemaran diri, yang disebut : “Lukat papa pataka letuhing sarira”
6e a.Bulan mati pada bulan Maret
Tersebutlah pada saat datangnya casih Kasanga (Maret), yang disebut “Centramasa”, terutama pada bulan mati (tilem), adalah hari untuk bersucinya para Dewa semua, bertempat dilautan, guna menikmati inti hakekat air suci kehidupan abadi (yang bertempat di lautan). Karena itu seyognyalah orang-orang (umat bersangkutan) semua menghaturkan puja bakti kehadapan raja Dewata, dengan tata cara sebagai berikut :
Pada panglong ping 14 sasih ke Sanga, hendaknya melakukan Bhuta Yadnya, bertempat di perempatan Desa Pakraman (Desa Adat). Adapun tingkatan-tingkatannya, ialah sekecil-kecilnya dengan cara yang disebut Pancasata (ayam 5 ekor); ditingkatan menengah, dengan Pancasanak (dasar caru ayam 5 ekor, ditambah itik bulu sikep sebagai ulu), sedangkan dalam tingkatan utama (besar), ialah tawur Agung (Pancawalikrama), dan seterusnya dengan memakai Yamaraja. Adapun Bhuta Yadnya tersebut dipuja oleh Sang Maha Pandita (Pedanda, Rsi, Empu, dsb).
Untuk karang paumahan dilakukan upacara pasuguh-suguh, yang berbentuk segehan mancawarna, banyaknya sembilan tanding, dengan ikannya ayam brumbun yang diolah, petabuh tuak dan arak. Adapun caru tersebut diupacarakan didengen (dimuka karang perumahan), yang disuguhi, ialah Sang Butha Raja, Sang Butha kala dan Kalabala diberi sesuguh dengan sege nasi sasah 108 tanding berisi jejeron mentah, serta segehan Agung satu tanding. Pada sore harinya sepatutnya tawur itu dilaksanakan semuanya.
Apabila tawur itu selesai diupacarakan barulah dilakukan Pangrupukan, dan itulah suatu jalan upacara yang bertujuan dapat mengembalikan Butha kala serta membatalkan usahanya membuat mara bahaya. Adapun alat yang lain ialah melakukan obor-obor dengan membawa api prapak, sembur meswi, dengan diantar puja mantra penolak mara bahaya, mantra penyengker agung, dengan mengelilingi pekarangan perumahan dan membawa api/obor. Setelah selesai melakukan obor-obor itu, maka orang-orang (umat) dalam keluarga baik laki-laki maupun perempuan lalu melakukan upacara abyakala ditengah-tengah pekarangan serta natab sesayut pamyak kala, lara malaradan, dan prayascita. Hari esoknya, lakukan sipeng amati geni, dan tidak melakukan pekerjaan jasmani, bahkan berapi-apipun ditiadakan ditempat pekarangan desa pakraman.
Yang penting diperhatikan, ialah bagi mereka yang mendalami ajaran brata-semadi, patut melakukan yoga samadi pada hari itu.
7e. Melelastikan / Mensucikan Pratima
Demikian pula hendaknya pada bulan panglong ke 13 sebelum Tilem, hendaknya dilakukan pensucian bagi pratima, yang menjadi lambang dari Sang Hyang Tiga Wisesa, misalnya : di Pura Puseh, Desa dan Dalem.
Lain pada itu, diikut sertakan pula segala arca-arca yang menjadi simbul melambangkan Lingga para Dewa-Dewa, yang diperhyangan. Itulah dikeluarkan semuanya dan disucikan dilautan, serta diiringi oleh orang-orang yang tergabung dalam Desa Adat/Pakraman, semuanya. Dalam pada itu dilakukanlah “Widhiwidana”, suguhan, dan ditujukan kepada Sang Hyang Baruna, guna memohon anugrah, termusnahnya kesengsaraan dunia, dalam segala bentuk penderitaan, dan kecemaran dunia menjadi musnah, lebur didalam lautan. Setelah selesai itu semuanya dilakukan, barulah dikembalikan pratima-pratima itu, dan kemudian ditempatkan (kejejerang) di Bale Agung. Disinilah Pratima-pratima itu diupacarai dan Bhatara-bhatari disuguhi banten datengan, dan banten-banten lainnya. Kemudian setelah selesai, barulah pratima-pratima dikembalikan ke Pelinggih masing-masing.
Apabila hal itu tidak dilakukan demikian dapat menyebabkan kacaunya Desa Pakraman, dimana akan mendapatkan gangguan yang bermacam-macam cara, dan sang Adikala memang berhak memangan orang-orang yang tidak melakukan amal keagamannya masing-masing apa gerangan yang menyebabkan demikian, ialah karena tidak memperhatikan kebenaran/kewajiban menjadi manusia. Itulah yang menyebabkan mereka dianiaya. Apabila hal itu terjadi, niscaya menyusahkan Sang Guru Wisesa, karena hal yang demikian rusaknya kedudukannya sebagai Guru Wisesa. Adapun kerusakan itu berwujud dalam bentuk mrana yang mengganas dari Bhuta Kala. Suatu alamat terhisapnya darah (kekuatan hidup) manusia seluruhnya, dan pencabutan jiwa manusia oleh para abdi Sang Hyang Adikala. Kalau kita bertanya siapakah yang menyebabkan demikian? Jawabnya, ialah bahwa Bhatara Wisnu (yang bersifat memelihara), berubah wujud kedewataanya menjadi kala (waktu pemusnah), Bhatara Brahma (yang bersifat mencipta), akan menciptakan Bhucari desa (mahluk berbisa), Teluh Tranjana (Penyebab kesedihan manusia), dan Bhatara Içwara (bersifat menyempurnakan), akan berwujud penyakit yang meraja lela dan mengerikan. Dan hal yang terakhir inilah yang paling membahayakan, karena dapat menyebabkan dunia basmi bila kehendaknya.
Demikianlah halnya, hai para pendeta anakku karenanya janganlah alpa terhadap hal yang demikian, seperti ajaran-ajaran yang kami utarakan. Kalau hal itu dapat dilaksanakan, maka kembalilah keselamatan dunia, termasuk pula keselamatan serba mahluk. Dengan demikian, menjadi sempurna dan sucilah wibawa dunia ini, sejahtera segala yang masih hidup, menjadi suburlah segala tumbuh-tumbuhan, karena penyebab dari penyakit yang meraja lela itu telah dilebur kembali dalam lautan.
8. Sasih Waisaka
Tersebutlah pada sasih waisaka ( kedasa bulan April ), Tanggal ping 15 ( hari purnama Kadasa ), pada waktu itulah hari penghormatan kepada Sang Hyang çuniamrta ( manifestasi Tuhan dalam sifat menghidupkan ), yang bersemayam di kahyangan sakti, serta disucikan sejak dahulu kala. Pada saat itulah disebut purnama Sada ( inti dari purnama-purnama, sasih yang lain ), karenannya patutlah orang-orang memuja leluhurnya, bertempat di Sanggah kemulan. Kalau di Desa Pekraman, ialah bertempat Sad Kahyangan Sakti ( Tri Kahyangan untuk Desa pakraman, dan Dang kahyangan untuk tingkat yang lebih luas.
Adapun upakaranya, ialah tingkat sederhana :
Suci 1, daksina 1, ajuman, dandanan aprangkat 1, ikannya serba suci, canang wangi-wangi, serta reresik, dan perlengkapannya.
Yang dihaturkan ( palaba ) dibawah, ialah :
Segehan Agung 1, segehan sasah 6, tanding, dan ikannnya bawang jahe, dan Sang purohita yang patut menjalankan, dengan puja sebagaimana mestinya. Sedangkan yang patut dilaksanakan oleh Umat pada umumnya ialah :
Upakara /upacara pamrayascita lwih, panyeneng dan teenan.
9. Purnama dan Tilem :
Dan ada pula hari sesucen terhadap Sang Hyang Rwabhineda, yakni Sang Hyang surya dan Sang Hyang Ratih, itulah yang jatuh pada hari purnama dan hari tilem. Kalau hari purnama, Sang Hyang Wulanlah yang beryoga, demikian pula kalau hari Tilem Sang Hyang Suryalah yang beryoga.
Demikianlah bagi para Sulinggih dan setiap Umat ( yang beragama Hindu ), patutlah melakukan pensucian diri, dengan menghaturkan wangi-wangi, canang biasa, yang disuguhkan kepada para Dewa. Dan oleh karena perbuatan itu dilakukan dalam ciptaan Tuhan, wajarlah bila dilakukan dengan air suci, serta bunga serba yang harum.
BAB. II
PAWUKON
1. Uku Sinta :
Lain dari pada yang itu, ada juga menurut Pawukon, yakni pada Uku Sinta :
a. Coma Ribek :
Coma Pon disebut juga Coma Ribek, hari puja wali Sang Hyang Çri Amrta, tempat bersemayamannya adalah di Lumbung, Pulu, adapun upacara memujanya ialah :
Nyahnyah geti-geti, gringsing, raka pisang mas, disertai denga bunga serba harum.
Pada waktu itu, orang-orang tak diperkenankan menumbuk padi, demikian juga menjual beras, karena kalaupun dilakukan, maka dikutuklah oleh Bhatari Çri, sepatutnya orang memuja Sang Hyang Tri pramana ( bayu, sabda, idep ), serta membatinkan inti sari ajaran Agama ; karenanya pada hari itu, tidak diperkenankan tidur pada siang hari.
b. Sabuh Mas :
Pada Hari Anggara Wage, disebutlah sabuh mas, suatu hari yang disucikan untuk memuja Bhatara Mahadewa, dengan jalan melakukan upacara Agama, terhadap harta benda kakayaan, yaitu :
Manik dan segala manikam ; adapun upakara :
Suci, daksina, peras penyeneng, sesayut yang disebut Amrta sari, canang lenga wangi, burat wangi dan reresik.
Tempat melakukan upacara itu, ialah dibalai piyasan ( dan yang semacam itu). Bagi orang-orang , patutlah melakukan pembersihan diri dan janganlah takabur terhadap kesenangan yang bersifat kebendaan belaka, melainkan ratna mutu manikam yang ada dalam diri pun ( jiwa ), perlu dimuliakan. Demikianlah, setelah selesai menyuguhkan kepada Bhatara-Bhatari bebanten sesayut itu, patutlah diayap untuk diri kita.
c. Pager Wesi :
Pada hari Buda Kliwon ( Sinta ), disebutlah Pager Wesi, saat Sang Hyang Pramesti guru ( Çiwa ) dan diikuti oleh Dewata Nawasanga, yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa segala makhluk hidup yang ditakdirkanNya dialam ini semuanya ; karenanya patutlah para sulinggih memuja cipataan Bhatara Prameswara : Upakara nya, ialah :
Daksina, suci 1, peras panyeneng, sesayut, pancalingga, penek ajuman, serta raka-raka, wangi-wangi, dan perlengkapannya, yang dihaturkan (disuguhkan) di Sanggah kemulan. Adapun bebanten bagi orang-orang ialah :
Sesayut pageh hurip 1, serta prayascita, setelah tengah malam, dilakukan yoga samadi (renungan suci). Dan ada pula sesuguh kepada Panca mahabuta (lima unsur alam) yaitu :
Segehan berwarna, sesuai dengan neptu kelima arah, dan diselenggarakan di natar sanggah, dan disertai dengan segehan agung 1, (sebuah).
2. Tumpek Landep :
Juga pada wara Landep, yaitu hari Caniscara Kliwon, adalah puja wali Bhatara Çiwa, dan hari saat beryoganya Sang Hyang Pasupati Adapun untuk pujawali Bhatara Çiwa, ialah :
Tumpeng putih kuning satu pasang, ikannya ayam sebulu, grih terasi merah, pinang dan sirih, dan banten itu dihaturkan di Sanggah.
Adapun yoganya Sang Hyang Pasupati (Hyang Widhi dalam wujud Raja Alam semesta), ialah :
Sesayut jayeng perang, sesayut kusumayudha, suci, daksina peras, canang wangi-wangi, untuk memuja bertuahnya persenjataan.
Demikian juga menurut ajaran, dalam hubungannya dengan manusia ialah hal itu untuk menjadikan tajamnya pikiran ; karena hal yang demikian patut dilaksanakan dengan puja mantra sakti pasupati.
……………………..
3. Wuku Ukir :
Wuku Ukir, yakni pada Redite Umanis, adalah hari untuk melakukan pujaan kepada Bhatara Guru, adapun upakara bebantennya, ialah :
Pengambean, 1, sedah ingapon 25 ( sirih dikapuri ), kwangen 8 buah, bebanten mana semuanya itu dihaturkan si sanggar kemulan, namun dapat juga ditambahkan dengan pelaksanaan upakara sedemikian rupa menurut kemampuan ; demikianlah patutnya orang, dalam memuja Bhatara Guru, yang dipuja di sanggar kemulan.
4. Kulantir :
Uku Kulantir, yakni pada Anggara Keliwon adalah hari unuk memuja Bhatara mahadewa ; dengan Upakara serba berwarna kuning yakni :
Punjung kuning satu pangkon, ikannya ayam putih siungan di betutu, sedah woh (sirih dan pinag), yang berisi kapur, dan bebanten-bebanten itu dihaturkan disanggar.
5. Uku Wariga :
Uku wariga, yakni hari Saniscara keliwon, disebutlah hari Panguduh, suatu hari untuk memuja kepada Sang Hyang sangkara, sebab beliaulah yang menyebabkan menjadinya segala tumbuh-tumbuhan termasuk kayu-kayuan. Adapun upakaranya ialah :
Peras, tulung, sesayut, tumpeng bubur dan tumpeng Agung dengan ikan babi, atau itik diguling. Baik pula disertai dengan raka-raka, penyeneng, tetebus, dan sesayut cakragni. Adapun bebanten tersebut diatas, ialah mendoakan semoga atas rahmat Hyang Widhi maka segala tumbuh-tumbuhan dapat tumbuh subur bersusun-susun dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan manusia dalam menentramkan hati, serta sejahteranya hubungan lahir bathin.
6. Warigadian :
Pada wuku warigadian, yakni pada hari coma pon, ialah hari untuk penghormatan kepada Bhatara Brahma, dengan mempergunakan bebanten sbb :
Sedah woh selengkapnya, dan menurut kemampuan, banten mana dihaturkan di Paibon, serta menghaturkan bunga harum, sebagai biasanya dilakukan.
7. Sungsang :
Uku Sungsang, yakni pada hari Wraspati wage, disebutlah hari Pararebon. Juga disebut hari Sugihan Jawa. Adapun hari tersebut, ialah untuk melaksanakan prayascita ( pensucian ), para Bhatara-Bhatara semuanya, yang disemayamkan di Prahyangan . Maka pada hari itu, dilakukanlah upacara pensucian Bhatara-Bhatara, kemudian dari pada itu dilanjutkan dengan upacara menghaturkan puspa harum. Lain dari pada itu, bagi orang yang membathinkan inti hakekat samadhi (meditasi), maka seyogyanyalah melaksanakan Yoga (renungan suci), sedangkan bagi para wiku (pedanda, Rsi, Empu, dsb), seyogyanya pula melakukan puja stuti, sebab pada hari itu para Bhatara turun kedunia disertai para Dewa pitara, untuk menikmati upacara pesucian, berlangsung sampai pada hari itu galungan. Oleh karena itu orang-ornag hendaknya melaksanakan upacara agama, dengan natab banten sesayut dan banten tutuan, yakni banten yang bersimbul penarik kebahagiaan lahir bathin, demikian patut dilaksanakan.
8. Dungulan :
a. Uku Dungulan, yakni pada hari Redite paing, disebutkan bahwa Sang Hyang Tiga Wisesa turun kedunia, dalam wujud kala, dan disebut Sang Bhuta Galungan, yang ingin memakan san minum didunia ini, oleh karena itu, orang-orang suci, demikian pula para sujana (bijaksana), hendaknya waspada serta mengekang / membatasi dirinya kemudian memusatkan pikirannya kearah kesucian, agar tiada kemasukan oleh sifat-sifat yang membahayakan dari pengaruh-pengaruh Sang Bhuta Galungan, dan hal yang demikian, disebutlah hari penyekeban.
b. Pada hari coma pon, adalah hari untuk melakukan yoga samadhi, dengan memusatkan pikiran untuk menunggalnya dengan para Bhatara-Bhatara. Itulah sebabnya, mengapa pada hari itu disebut :
Penyajaan oleh dunia ( Hindu ).
c. Pada hari Anggara Wage, disebutlah hari penampahan, Pada hari itulah waktunya Sang Bhuta Galungan memangan. Oleh karena itu, patutlah dilakukan penyelenggaraan hidangan oleh desa Adat, dengan korban caru kepada Bhuta –Bhuta, bertempat diperempatan Desa adat, adapun korban yang diberikan kepada Bhuta-Bhuta, bentuknya bermacam-macam, yakni dari bentuk yang sederhana, sedang, dan besar. Dan yang patut memuja, ialah para Sulinggih , unuk memohonkan kepada Hyang . Yang dimaksud Sulinggih, yakni : Pedanda Cwa Budha, karena beliaulah yang mempunyai wewenang dalam hal ini. (termasuk juga dalam golongan Sulinggih, yakni Pemangku).
Lain dari pada itu, segala senjata perang, patutlah semuanya itu diupacarai, dengan upacara pensucian oleh para Sulinggih. Tambahan pula bagi orang-orang kebanyakan ( Umat Hindu bersangkutan ), upacara-upacara tsb, bermanfaat untuk mendapat pahala kekuatan utama dalam perjuangan hidup yang patut disuguhkan di masing-masing pekarangan rumah ialah :
Segehan warna, 3. ditaburkan menurut neptu, yakni : putih, 5. hitam, 4. bang, 9. ikannya olahan babi, tetabuhan, disertai segehan Agung, 1. Adapun tempat melakukan caru, ialah di natah pekarangan rumah, di sanggah, dan dimuka pekarangan rumah, yang dihayat pada waktu menjalankan caru itu, ialah Sang Bhuta Galungan. Sedang yang patut dihayapkan oleh anggota keluarga, ialah banten pabyakala, prayascita, dan sesayut, untuk mendapat kesuksesan dalam perjuangan hidup, sekala niskala (lahir-batin).
d. Disebut Buda keliwon galungan, keterangannya, ialah, bahwa untuk memusatkan pikiran yang suci bersih, disertai dengan menghaturkan upacara persembahan kepada para Dewa-Dewa, di Sanggar parhyangan, tempat tidur, pekarangan, lumbung, dapur, dimuka karang perumahan, tugu, tumbal, pangulun Setra, pangulun Desa, pangulun sawah, hutan munduk, lautan, sampai pada perlengkapan rumah, semuanya itu diadakan persajian, dengan suguhan yang dilakukan di sanggar parhyangan, menurut besar kecilnya sbb :
Tumpeng payas, wangi-wangi, sesucen (pembersihan ), itulah yang disuguhkan di Sanggar. Adapun banten dibalai-balai, ialah : tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan, sodaan, dan perlengkapannya. Sedangkan ikannya, ilah jejatah babi, serta asap dupa harum. Setelah selesai itu semuanya diupacarakan, maka biarkanlah semalam, banten itu semuanya jejerang, sampai besoknya pagi-pagi.
9. Kuningna :
a. Pada redite wage, disebut pemaridan guru, pada hakekatnya ialah saat kembalinya para Dewata-Dewata semuanya, menuju kahyangan, jelasnya, bahwa para Dewata-Dewata pergi, dengan meninggalkan kesejahteraan panjang umur. Maka upacaranya :
ialah :
Menghaturkan ketipat banjotan, canang raka-raka, wangi-wangi, serta menikmati tirtha pebersihan.
b. Pada coma keliwon, disebutlah Pamacekan Agung. Pada sore harinya, patut melakukan segehan Agung dimuka halaman karang perumahan, dan memakai sambleh ayam semalulung yang disuguhkan kepada sang Bhuta Galungan dan para abdinya agar pergi.
c. Buda paing kuningan ialah hari pemujaan Bhatara Wisnu, maka upacaranya ialah:
Sirih dikapuri, putih, hijau, dan pinang, 26, disertai tumpeng hitam serta runtutannya. Menurut kemampuan, dan dihaturkan kepada Bhatara di paibon, dan disertai pula bunga-bunga harum sebagaimana mestinya.
d. Pada hari saniscara kliwon kuningan, turunlah lagi para Dewata sekalian, serta sang dewa pitara (leluhur) untuk melakukan pensucian, lalu menikmati upacara bebanten, yakni :
Sege dan selanggi, tebog, serta raka-raka selengkapnya, pebersihan, canang wangi-wangi dan runtutannya, dan menggantungkan sawen tamiang dan gegantungan caniga, sampai pada tempat / kandang segala binatang ternak. Janganlah menghaturkan bebanten setelah lewat tengah hari, melainkan seyogyanyalah pada hari masih pagi-pagi, sebab kalau pada tengah hari, Dewa-Dewa telah kembali ke sorga.
Lain dari pada itu, yang patut dipakai mendoakan manusia :
Sesayut prayascita luwih, yaitu segejenar, ikannya itik putih, panyeneng, tetebus, yang gunanya untuk mohon kesucian pikiran, yang suci bersih, dan tidak putus-putusnya melakukan semadhi, juga diletakkan pasegehan di natar, yakni segehan Agung, 1.
10. Pahang :
Pada Hari Buda keliwon, disebut pegatwakan dan penjelasannya adalah, bahwa pada hari itu titik selesainya memusatkan renungan ngekeb pikiran bersemadhi, dalam hubungannya, bahwa sang wiku dan para orang-orang sekalian patut membathinkan renungan suci, mempersatukan ciptannya untuk mendapatkan kesadaran, dari mana asalnya kita pada mulanya, renungn mana disertai dengan upakara serba suci :
Wangi-wangi dan sesayut dirghayusa, dihaturkan kehadapan Hyang widhi Tunggal, upakara mana dilengkapi dengan penyeneng dan tetebus.
11. Merakih :
Sukra Umanis, adalah hari pemujaan Bhatara Rambut Sedana, dan beliau juga disebut Sang Hyang Rambut Kaphala, adapun upacara bebantennya :
Suci, daksina, pras, penek, ajuman, sodha putih kuning, dihaturkan kepada Sang Hyang rambut Sedana, keterangannya, ialah memuja melalui pralingga beliau, yang berujud perak, mas, wang, namun ditujukan kepada Sang Hyang Kamajaya (manifestasi Hyang Widhi yang memberi kenikmatan hidup).
12. Uye :
Uku Uye, yakni pada hari Saniscara keliwon, disebut Tumpek Kandang, hari pelaksanaan upacara kepada binatang-binatang, seperti binatang sembelihan / ternak, kalau untuk sapi, kerbau, gajah, dan sebagainya, upacara yang diberikan, adalah sebagai berikut :
Tumpeng, tebasan, paresikan, panyeneng, dan jerimpen.
Kalau unuk bawi :
Tumpeng, penyeneng, canang raka, -
Kalau untuk bawi betina :
Ketipat bekok, belayag bersama dengan segaaon.
Kalau untuk sebangsa burung, ayam, itik, angsa, kwir, perkutut, dan sebangsanya :
Ketipat sesuai dengan bentuknya, kalau untuk burung, ketipat paksi, kalau untuk ayam ; ketipat ayam, disertai dengan panyeneng, tetebus dan bunga-bungaan.
Keterangannya, ialah bahwa upacara itu, seperti mengupacarai manusia, dengan mengambil bentuk utamanya pada binatang, seperti burung, ikan, karena badan itulah umpama binatang, sedangkan jiwanya adalah Sang Hyang Rareangon ( Çiwa ).
13. Wayang :
Secara keseluruhan pada hari itu, adalah saat bertemunya Sang Wayang dengan Sang Sinta. Disebutlah bahwa wuku itu cemar, sehingga tidak dibenarkan kalau melakukan pensucian, berhias-hias, demikian juga bersisir, terutama pada hari Sukranya, karena berakibat ternodanya nilai diri.
a. Pada hari Sukra Wage, dinamai hari kala paksa, ( Ala paksa), yakni waktu karogan namanya. Oleh karena itu orang-orang sewajarnyalah melakukan pembatasan, (secara simbolis), dengan menggoreskan kapur, tepat pada dadanya (tapak dara). Dan mesesuwuk (menempatkan suatu tanda) dengan daun pandan berduri, bertempat dibawah dipan tempat tidur, (juga diruangan pintu). Pada esok paginya, semua sesuwuk pandan tsb, dikumpulkan dan bertempat pada sebuha nyiru ( sidi ), disertai segehan lalu buanglah didengen, yakni dimuka halaman keluar pekarangan. Dalam pada itu, perlu disertai ucapan dalam pembuangannya dengan sesapa yang bermaksud membuang kecemaran-kecemaran.
b. Menjelang hari Saniscara keliwon, adalah hari pemujaan pada Dewa Iswara, dengan prantara mengupacarai segala kesenian (baik yang bersifat sakral,maupun yang bersifat propan), yaitu : gong, gender, dan segala unen-unen lainnya. Adapaun bebanten untuk itu, ialah :
Suci, pras, ajengan, ikannya itik putih, sedah woh. Canang raka, dan pasucen selengkapnya.
Sedangkan widhiwidhana untuk manusia yang diibaratkan sebagai wayangnya Hyang Suksma, perlu diadakan pangastiti terhadap diri pribadinya, yakni :
Sesayut tumpeng Agung, 1, dan penyeneng.
Sebab badan kita itu, juga ibarat wayang, dan Sang Hyang Iswara ibarat dalang. Adapun pelaksanaannya, itulah ibarat gerak gerik dalam lakonnya. Jadi tidaklah berkenan ia dijadikan pengantar yadnya (apabila) tiada dilakukan pemujaan. Maka janganlah hendaknya orang tidak mau melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Iswara atau Sang Hyang Triwiradnyana (yang menjadi sumber gerak, kata-kata, dan pikiran). Jika dilanggar nerakalah jiwanya.
14. Watugunung :
Saniscara Umanis, adalah hari pujawali Bhatara Saraswati adapun upacaranya :
Suci, peras, daksina palinggih, kembang payas, kembang cane dan kembang biasa, sesayut saraswati, prangkatan )rantasan) putih kuning, serta raka-raka tidak terkecuali dengan runtutannya, Sang Hyang pustaka (Lontar-lontar keagamaan), tempat menuliskan Aksara, itulah yang patut diatur yang sebaik-baiknya, dipuja, dan diupacarai dengan puspa wangi : inilah yang disebut memuja Sang Hyang Bayu (gerak, kata-kata dan pikiran).
Pada umumnya waktu keadaan yang demikian (dalam memuja dengan bebanten), tidak wajar menulis surat, tak wajar membaca buku-buku weda, dan kidung kekawin, melakukan kewajarannya ialah melakukan yoga.
Komentar :
Saat melakukan yoga samadhi, bayu, sabda idep dipusatkan semuanya secara meditasi, maka itu tidak melakukan bacaan-bacaan/menulis. Setelah saat-saat tsb, dalam rangka merayakan memeriahkan, pada nantinya tidak merupakan halangan mengadakan pembacaan-pembacaan dengan tujuan yang baik, antara lain memperdalam dan menghayati intisarinya.
15. SINTA
Pada hari Redite paing pagi-pagi, disebut Banyupinaruh, saat melakukan penyucian , yakni membersihkan diri kebeji (permandian), kemudian mensucikan diri dengan mempercikan air kumkuman. Kemudian lanjutkan dengan menghaturkan lelabaan pada Bhatara-Bhatara di Sanggar masing-masing yaitu:
Sege/punjung pradnyan jenar (gading), dan jejamu serba harum, yang dihayap oleh masing-masing.
16. PANCAWARA KLIWON
Dan pada hari Pancawara, yakni setiap datangnya hari Kliwon, adalah saat beryoganya Bhatara Çiwa, sepatutnya pada saat yang demikian, melakukan pensucian dengan menghaturkan wangi-wangi bertempat di Merajan, dan diatas tempat tidur, sedangkan yang patut disuguhkan dihalaman rumah, halaman Merajan dan pintu keluar masuk pekarangan rumah, ialah segehan kepel dua kepel menjadi satu tanding, dan setiap tempat tersebut diatas, disuguhkan tiga tanding yakni :
a. dihalaman Sanggar, kepada Sang Bhuta Bhucari
b. di Dengen, kepada Sang Durgha Bhucari
c. untuk dihalaman rumah, kepada Sang Kala Bhucari
adapun maksud memberikan laba setiap hari Kliwon, ialah untuk menjaga, agar pekarangan serta keluarga semuanya mendapat perlindungan dan menjadi sempurna.
17. BYAHTARA KLIWON :
Lain lagi, pada hari Kajeng Kliwon, pelaksanaan Widhi Widhananya, seperti halnya pada hari kliwon juga, hanya tambahannnya dengan segehan warna limang tanding. Yang disuguhkan pada samping kori sebelah atasnya, ialah :
Canang wangi-wangi, burat wangi, canang yasa, dna yang dipuja ialah Hyang Durghadewi.
Yang disuguhkan dibawahnya (segehan seperti tersebut diatas), untuk Sang Dhurga Bhucari, Kala Bhucari, Bhuta Bhucari, yang maksudnya berkenan memberikan keselamatan kepada penghuni rumah. Sebab kalau tidak dilakukan demikian, maka Sang Kala Tiga Bhucari akan memohon lelugrahan kepada Bhatara Durgha Dewi, untuk merusak penghuni rumah, dengan jalan mengadakan gering/penyakit dan mengundang para blek megik (pengiwa-pengiwa), segala merana-merana, mengadakan pemalsuan-pemalsuan, yang merajalela dirumah-rumah, yang mana mengakibatkan perginya para Dewata semuanya, dan akan memberi kesempatan para penghuni rumah disantap oleh Sang Hyang Kala ber-sama-sama dengan abdi Bhatara Durgha. Demikianlah maka sadarlah, dan jangan menentang pada petunjuk kami.
18. SAPTAWARA + PANCAWARA
Adalah lain lagi, harapan kami kepada anda sekalian, maka perhatikanlah, Sahdan pada hari Anggara Kasih, keterangannya, adalah suatu saat untuk mewujudkan cinta kasih terhadap dirinya. Maka pada hari tersebut, sepatutnyalah untuk peleburan bencana, dan meraut dari diri segala kecemaran, terutama kecemaran pikiran yang melekat pada diri. Caranya, ialah dengan jalan renungan suci. Sebab dalam keadaan yang demikian, saat Hyang Ludra melakukan yoga, yang bertujuan memusnahkan kecemaran dunia. Maka pelaksanaan widiwidananya, ialah menghaturkan wangi-wangi, dupa astangi, dan lanjut matirtha pembersihan.
19. BUDHA KLIWON
Buda Klion, saat Pensucian Sang Hyang, yakni ngastuti Hyang Nirmala, Jati dan Widhiwidananya :
Canang yasa, dan wnagi-wangi, menghaturkan kembang payas pada atas tempat tidur, dan di sanggar.
Tata pelaksanaan itu, dengan memuja untuk keselamatan Trimandala, yakni : yang pertamanya ialah keselamatan badan sendiri, yang kedua ialah sanak keluarga seketurunan dan yang ketiga, ialah keselamatan Negara.
20. BUDHA WAGE
Budha Wage, Budha cemeng namanya, keterangannya ialah, mewujudkan inti hakekat kesucian pailiran, yakni putusnya sifat-sifat kenafsuan, itulah yoga dari Bhatari dari Manik galih, dengan jalan menurunkan Sang Hyang Omkara amrta ( inti hakekat kehidupan ), diluar ruang lingkup dunia skala.
Maka patut melakukakan widhiwidana dengan :
Wangi-wangi, memuja disanggar dan diatas tempat tidur serta menghaturkan kepada Sang Hyang Çri, lalu melakukan renungan suci pada malam harinya.
21. SANISCARA KLIWON :
Hari Saniscara Kliwon, disebutkan hari puncak rahmat yang diberikan kepada manusia, karenanya janganlah lupa memuja Sang Hyang maha Wisesa (Tuhan Yang Maha Esa), janganlah menjauhkan diri, terlebih-lebih janganlah memisahkan diri, sebab hari itu adalah turunnya sukreta dari Sang Hyang Anta Wisesa (Tuhan Yang dalam manifestasinya memberikan rahmat kehidupan terus menerus ) kepada dunia semuanya. Adapun cara memujanya, adalah sebagai biasa, yakni :
Pada malam hari, tidak pantas mengambil kerja (jasmaniah), melainkan berdiam dirilah, sambil mengheningkan cipta sesuci-sucinya, dan memusatkan perhatian kepada Sang Hyang Dharma, serta kesadaran jiwa menyeluruh, teringat adanya.
Janganlah orang yang telah menyadari falsafah ini tidak meyakini dan sampai-sampai menentang kebenaran ini, sebab menyebabkan tidak mencapai keselamatan dalam segala tindakannya. Mengapa demikian, ialah karena orang demikian, tidak melakukan kebenaran, sehingga dapat disamakan dengan binatang, hanya perbedaannya ( pada orang demikian ), memakan nasi, kalau orang-orang suci ( wiku ), tidak menuruti keyakinan itu, maka bukanlah wiku, sebagai titisan Sang Hyang Dharma.
22. CANDRA GRAHANA :
Disebutkan lagi, yakni pada saat datangnya bulan gerhana, cahaya bulan diterkam oleh Rawu, demikianlah ceritanya, karenanya disebutkan prawesa ( tenggelam ) karena bertemunya Sanghyang Surya. Dalam keadaan yang demikian, sepatutnyalah para rohaniawan semuanya melakukan pujaan seperlunya, yakni upacara bulan kepaangan, dengan maksud kesempurnaan kembali Sang Hyang Wulan, serta bebantennya :
Canang wangi-wangi dan raka-raka, dan bubur biaung serta penek putih kuning secukupnya dan puspa wangi.
Penjelasan pelaksanannya sbb :
Diluar orang-orang yang membathinkan kesucian, melakukan renugan suci dengan membacakan isi buku-buku keagamaan dan ceritra-ceritra suci, lain dari pada itu, bertempat di halaman rumah, patut dilakukan pujaan kepada Sang Hyang Surya Candra. Setelah itu sebulan lamanya, akibat terlibatnya Sang Hyang candra, maka tidak diberikan kepada mereka melakukan kerja agama angayu-ayu memuja para Dewa, Bhuta, Pitara, singkatnya segala karya tak boleh.
23. SURYA GRAHANA :
Pada waktu Surya Graha keterangannnya ialah Sang Hyang Surya berwujud mrtha, karenanya dipangan oleh Sang Kala Rawu, Oleh karenanya, Hyang Paramawisesa melibatkan dunia terkena pengaruh kecemaran, setahun lamanya tidak diperkenankan melakukan segala yadnya angayu-ayu.
Adapun tata cara pelaksanaannya sama juga dengan pelaksanaan Candra Graha. Demikianlah.
24. PURNAMA KAPAT :
Inilah lagi suatu ucapan dari Çundarigama, yang boleh dipakai oleh Catur Warna, yakni : Brahma, Ksatrya, Wesya, Sudra supaya dapat mencapai keselamatan seluruh kawitannya seperti sedia kala, sebagai berikut :
Pada waktu Purnama kapat, itulah saat beryoganya Sang Hyang Çiwa, dan para Dewata semuanya. Maka para pendeta patut melakukan pamujaan memasang / memakai busana kependitaan sebagai mana msetinya, serta melakukan tata cara Candra Sewana, demikian pula melakukan sembahyang dengan menghaturkan Tarpana kehadapan Kawitan, bebantennya :
Canang genten, lenge wangi, burat wangi, dan pebersihan sedapat-dapatnya.
Adapun kehadapan Sang Hyang Wulan, menghaturkan :
Tumpeng kuning, ikannya ayam putih siungan, dan prayascita lwih, lengkap dengan pebersihan.
Sedangkan para pelindung (pamong-pamong ), serta para cendakiawan semuanya, pada malam harinya, patutlah memohon kehadapan Hyang Widhi, untuk mana kita dianugrahi keselamatan, kepada Ratu Dalem, patut melakukan sembahan :
Canang lenge wangi dan canang genten.
Kepada Bhatara kawitan di Sanggar, menghaturkan bebanten sedapat-dapatnya, demikian juga diatas tempat tidur, yakni :
Banten dedari satu dulang, yang bertujuan untuk melebur segala kecemaran –kecemaran dan halangan-halangan pada diri.
25. TILEM KEWULU.
Pada Sasih Kewulu itulah dunia disebut kemasukan Bhuta Kala, karenanya orang yang melaksanakan Agama semuanya patut bersucikan pikiran, supaya dunia tidak kekosongan. Ketika tilem Kewulu itu, umat Agama (Hindu) semuanya memuja Sang Hyang, dengan bebanten :
Sesayut ketipat sirikan, menurut neptu hari, ikannya palem udang, sayur talas, daun cabai bun, dun gamongan, daun kencur, kacang ijo, semuanya diurab, serta daun / putik daun dap-dap, (delundung) juga menurut neptu hari, sambal gente, untu-untu juga disertai jagung, talas, tebu, semuanya direbus, raka-raka, woh-wohan, buni, sentul, salak, serta tetebus tadah pawitra.
BAB. III
RANGKUMAN.
Untuk memudahkan melihat hari-hari yang patut untuk melaksanakan Widhi Widhana sebagaimana yang diutarakan, dibawah ini dibuat rangkuman sesingkat mungkin sbb, :
1. PURNAMA KAPAT :
BEBANTEN 2
a). Kepada Bhatara kawitan : Tarpana sarwa pawitan.
b). Kepada Sang Hyang Wulan, dipelinggih di Sanggar :
penek kuning, ikannya ayam putih siungan, prayascita lwih, reresik.
c). Kepada Bhuta Kala, dinatar Sanggar, segehan agung sebuah.
d). Malam harinya melakukan renungan suci.
2. TILEM KAPAT :
Mugpug/memusnahkan kecemaran-kecemaran diri.
BEBANTEN 2
a). Kepada bhatara di parhyangan : wangi-wangi dan runtutannya.
b). Diatas tempat tidur kepada Hyang Widyadari : wangi-wangi dan sesayut widyadari.
3. PRAWANINING TILEM KEPITU PANAKLUK MRANA :
BEBANTEN 2.
a). Di tepi laut dan semacam itu :
4. TILEM KAWULU RESI GANA :
a). Di parhyangan wangi-wangi sesayut ketipat sirikan, ikannya palem udang, menurut neptu hari, sayur-sayuran dan buah-buahan, serta tetebus tadah pawitra.
5. SASIH KESANGA SESUCEN DEWATA KABEH :
A. Panglong ping 13 Melasti.
a). Kepada Hyang Baruna ditepi laut (dan semacamnya) : sodaan, rarapan, pasucian selengkapnya, dan samleh ayam hitam.
b). Pratima ditempatkan dipahyasan (bale agung) laksanakan banten datengan dan runtutannya.
B. Panglong ping 14 Ambhuta Yadnya.
a). Untuk rumah tangga, pekarangan, segehan manca warna 9 tanding, ikannya ayam brumbun yang diolah.
Segehan Agung sebuah, dan segehan sasah 108 tanding.
Tempat upacara, dimuka pintu pekarangan keluar masuk rumah. Yang dihayat : Bhuta raja, kala raja, bhuta Kala, Kala Bala. Senja hari mgerupuk, serana semburkan meswi dan obor.
b). untuk penghuni keluarga.
Sesayut pamyakala, sesayut lara malaradan, prayascita.
C. TILEM KESANGA.
Anyepi. Amati geni, renungan suci.
6. PURNAMA KEDASA :
Pujawali Hyang Sunia Amerta.
BEBANTEN 2.
a). Di Parhyangan.
Suci 1, daksina 1, ajuman adandanan, rayunan aparangkat 1, ikannya serba suci, wangi-wangi, reresik.
b). Dinatar / sor.
Segehan Agung 1, segehan sasah 6, ikannya bawang jahe.
c). Untuk manusia.
Prayascita lwih, panyeneng teenan.
7. SETIAP HARI TILEM HYANG SURYA BERYOGA/SETIAP HARI PURNAMA,
SANG HYANG CANDRA BERYOGA.
BEBANTEN 2.
a). Di Parhyangan.
Wangi-wangi, canang biasa.
b). untuk diri, mohon serta pensucian.
8. UKU SINTA.
A. COMA RIBEK. Sesucen Hyang Çriamrta.
BEBANTEN-BEBANTEN
a). Di Pulu, lumbung, dsb.
Nyah-nyah, geti-geti, grinsing, raka pisang mas, wangi-wangi.
13. SABUH MAS (SELASA), sesucen Hyang Mahadewa.
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Untuk harta benda dsb. : Suci 1, daksina 1, peras penyeneng, sesayut sari, canang lenga wangi, burat wangi, reresik.
b) Tempat di Piasan, setelah selesai menghayat, lalu diri masing-masing mohon tirtha.
C. PAGERWESI (BUDHA KLIWON) YOGAN HYANG PRAMESTI GURU
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Di Sanggah Kemulan : daksina, suci, pras, penyeneng, sesayut, pancalingga, penek ajunan, rake-rake, wangi-wangi.
b) Untuk diri : sesayut pageh urip, prayascita, dan pada malam harinya melakukan renungan suci
c) Untuk panca Bhuta : segehan warna, anut uripin panca desa, (lima arah) tempatnya di natar Sanggah, ditambah sebuah segehan Agung.
9. UKUN LANDEP SANISCARA KLIWON
Pujawali Bhatara Çiwa dan yoga dari Hyang Pasupati
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Kepada Hyang Çiwa : tumpeng putih kuning adandanan, ikannnya menurut kemampuan, grih trasi bang, sedan woh 28, tempatnya di Sanggar.
b) Kepada Hyang Pasupati : sesayut jayeng prang, sesayut kesuma yuda, suci, daksina, pras, canang wangi-wangi, reresik dihayatkan kepada senjata-senjata tajam, dan memuja Hyang Pasupati.
10. UKIR REDITE UMANIS
Pujawali Bhatara Guru
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Kepada Bhatara Guru, pengambean, sedah ingapon 25, kwangen 8, tempatnya di Sanggah Kemulan.
11. KULANTIR ANGARA KASIH
Pujawali Bhatara Mahadewa
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Kepada Bhatara Mahadewa : segehan kuning sepangkon, ikannya ayam putih siungan betutu, sedah woh 22, ingapon. Tempat di Sanggar.
12. WARIGA SANISCARA KLIWON
Pujawali Sang Hyang Sangkara
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Diayatkan untuk tumbuh-tumbuhan, pras, tulung, sesayut, tumpeng bubur, tumpeng agung, ikannya guling babi, (boleh itik), raka-raka, penyeneng, tetebus, sesayut cakragni.
13. WARIGADEAN COMA PAING
Pujawali Bhatara Brahma
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Untuk Hyang di Sanggar : sedah woh, selengkapnya, puspa wangi dan runtutannya. Tempat di Paibon.
14. SUNGSUNG WRASPATI WAGE
Patirtan Bhatara di Sanggah
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Kepada Bhatara-bhatara di Sanggar
Banten rerebon jangkep, reresik, wangi-wangi
b) Untuk keluarga : sesayut 1, dan tutwan
c) Bagi rohaniawan : malamnya mengadakan renungan suci
15. DUNGULAN
Pujawali Hyang Tiga Wisesa
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Redite Paing : pangekeban, melakukan renungan suci
b) Coma pon : Penyajaan, melakukan renungan suci.
c) Anggara Wage : Penempahan caru dirumah tangga.
Dinatar = segehan warna tiga, berjejer, ikannya olah-olahan, segehan Agung 1,
Dinatar sanggar = segehan warna tiga, berjejer, ikannya olah-olahan, yang dihayat : Sang Bhuta Galungan.
d) Budha kliwon Galungan.
Bebanten disanggar. Tumpeng payas, wangi-wangi, sesucen.
Bebanten di balai-balai :
Tumpeng pengambian, jrimpen pajegan, sodan, ikannya jejatah babi gorengan.
Lain dari pada itu disemua bangun-bangunan, juga dilaksanakan penghayatan dengan bebanten seperlunya,
e) Wraspati Umanis Galungan.
Persiapan-persiapan : Pagi menÇri air kumkuman.
Banten di sanggar : wangi-wangi, asep, dupa, mohon tirta pakuluhnya ring Galungan.
Banten di natar Sanggah : segehan sekedarnya.
16. KUNINGAN
BEBANTEN 2,
a) Redite Wage / Pemaridan Guru.
Ketipat banjotan, canang raka, wangi-wangi, tirta pabersihan. Tempatnya Sanggah kemulan.
b) Budha Paing.
Pujawalin Bhatara Wisnu.
Sedah ingapon, putih hijau, pinang 26, tumpeng (nasi) hitam, dan runtutannya seberapa mampu membuat.
Tempat memuja di paibon.
c) Sukra Wage.
Hanya penting melakukan renuangan suci.
d) Saniscara kliwon.
Tumpek kuningan.
Di Sanggah : sega selanggi, tebog, raka-raka, pasucian. (tamyang, caniga, paa pembangunan).
Untuk manusia : sesayut prayascita lwih, punjung kuning, ikannnya itik putih, penyeneng, tetebus.
Untuk dinatar pekarangan : segehan Agung sebagai biasa. Menghayat hanya dilakukan sebelum Jam 12 siang.
17. PAANG PEGAT WAKAN.
BEBANTEN 2.
Wangi-wangi dan pasucen.
Tempatmnya di parhyangan-parhyangan.
18. MERAKIH PUJAWALIN BHATARA RAMBUT SEDANA.
BEBANTEN
a) Sukra Umanis : Suci, daksina, pras penek ajuman, soda putih kuning. Memuja Hyang kamajaya.
Tempatnya : dimana menyimpan harta kekayaan.
19. UYE / TUMPEK KANDANG.
Mengupakarai binatang ternak.
BEBANTEN 2.
Banten disanggar : suci, peras, daksina, panyeneng, canang lenga wangi,. Burat wangi, pasicen, yang dihayat Sanghyang Rareangon.
Banten untuk ternak jantan.
Tumpeng, sesayut 1, panyeneng, reresik, Jrimpen, canang raka.
Banten untuk ternak betina.
Seperti juga ternak jantan hanya ditambah ketipat belekok blayag, pesor.
Banten bagi ternak bangsa burung.
Ketipat paksi, ketipat sidha purna, bagia, penyeneng, tetebus kembang payas.
20. WAYANG.
BEBANTEN 2.
a) Sukra Wage, kalapasa : sasuwuk dengan daun pandan berisi kapur, segehan, asep, (api takep).
b) Saniscara Kliwon Tumpek Wayang : pujawalin Bhatara Iswara, untuk unen-unen. Suci, peras, ajengan, ikannya itik putih sedah woh, canang raka, pasucen.
Untuk manusia : sesayut tumpeng Agung 1, prayascita, panyeneng.
21. WATUGUNUNG.
BEBANTEN 2.
a) Saniscara Umanis Pujawalin Bhatara Saraswati.
Suci, peras, daksina, pelinggih, kembang payas, kembang cane, kembang biasa, sesayut saraswati, prangkatan putih kuning, raka-raka, wangi-wangi, tempat menghayat : Lontar-lontar dan lain-lain.
b) Redite paing Sinta : Banyu Pinaruh
Bebanten 2
Di Sanggar, sege (punjung nasi pradungan kuning), jejamu serba harum mohon tirtan pensucian.
22. PANCA WARA KLIWON YOGYANYA BHATARA ÇIWA
BEBANTEN 2.
a) Pada pelinggih di Merajan wangi wangi, asep dupa harum.
b) Pada natar Sanggah untuk Sang Bhuta Bhucari segehan kepel 2 kepel, menjadi satu tanding dihaturkan 3 tanding.
c) Pada natar pekarangan untuk Sang Kala Bhucari sama dengan dinatar Sanggah
d) De Dengen, antuk Sang Durga Bucari sama dengan di natar Sanggah dan pekarangan rumah.
23. KAJENG KLIWON.
BEBANTEN 2.
a) Sama dengan hari kliwon.
b) Yang di Dengen bertambah segehan warna lima tanding, dan tabuh.
c) Disamping lawang diatas, banten canang wangi, burat wangi, canang yasa, hayat Sang Hyang Dhurgadewi.
Ditulis dalam Pustaka/Lontar
1.PENDAHULUAN
Setiap pelaksanaan hari raya Galungan dan Kuningan yang kita saksikan hanyalah suatu rutinitas formal dan miskin pemaknaan. Pada umumnya setiap menjelang hari raya besar itu, telah terbayang sebelumnya akan kewajiban dan acara yang mesti dilakukan dan sepertinya telah terformat sedemikian rupa.
Sejak kecil hanya hal-hal itu saja yang dilakukan tanpa mampu mengungkap makna lebih jauh kenapa mesti kita harus merayakannya seperti itu. Sampai kita sudah dewasa misalnya sudah berumur 40 tahun, kemudian dibagi 210 hari (6 bulan Bali) maka kita telah melewati hari Raya Galungan dan Kuningan sebanyak kurang lebih 69 kali. Bila kita mencoba untuk mengevaluasi diri dengan menanyakan ke dalam diri apakah ada perubahan pemahaman atau pelaksanaan dan prilaku yang lebih baik. Jawabannya kita sendiri yang tahu. Kalau boleh kita akui secara jujur kebanyakan dari kita cuma memahami hari raya keagamaan secara gugon tuon, anak mule keto, yang akhir-akhir ini dilaksanakan dengan semarak namun miskin akan makna.

Hari Raya Galungan dan Kuningan pada umumnya dirayakan oleh Umat Hindu di Bali setiap 210 hari (6 bulan) yang selalu diwarnai kemeriahan karena dimaknai sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Namun di daerah lainnya di Indonesia meskipun beragama Hindu tidak dikenal adanya hari raya tersebut kecuali oleh umat Hindu yang berasal dari Bali. Di daerah asal agama Hindupun yaitu di negeri India hari raya ini dari sisi nama juga tidak dikenal meskipun makna hari raya tersebut ada pada hari-hari suci yang diperingati di India.

Kemudian kenapa hari raya Galungan dan Kuningan hanya diperingati di Bali? Inilah yang mendorong saya untuk mencari makna apa yang tersimpan di hari raya tersebut. Dari berbagai perenungan yang mendalam akhirnya penulis menemukan jawaban meskipun jawaban ini hanya berupa bisikan hati yang sifatnya personal dan membuka peluang besar bagi para pembaca untuk mengkoreksinya.

Pada akhirnya setelah apa yang saya dapat renungkan sampailah pada suatu kesimpulan bahwa para Leluhur kita begitu hebatnya dalam membumikan ajaran agama dengan harapan agar ajaran agama dapat dilaksanakan oleh umat manusia dalam berbagai tingkatan perkembangan kesadaran baik bagi para pemula yang baru mengenal agama sampai pada tingkat kesadaran yang paling tinggi. Hari raya Galungan dan Kuningan hanyalah berupa sistem pembelajaran yang secara rutin yaitu setiap 210 hari (6 bulan) akan selalu diulangi yang pada akhirnya diharapkan umat manusia menyadari dirinya untuk apa dilahirkan seirama dengan perpanjangan usianya sampai ajalnya dijemput.

Sebelumnya penulis minta maaf kepara para bijak, Tokoh-tokoh Agama, para Sulinggih maupun mohon ampun kehadapan Ida Bathara-Bathari, Leluhur dan Bethara Kawitan, Dewa-Dewi dan Hyang Widhi apabila apa yang penulis paparkan dibawah ini adalah pemahaman yang salah atau keliru.

Semua uraian dibawah ini muncul dari bisikan hati dengan sendirinya setelah penulis sedikit menekuni sepiritual akan makna kehidupan. Suatu hari penulis menyampaikan pemahaman ini kepada teman-teman dan rupanya mereka tertarik dan mendesaknya untuk ditulis. Namun dengan segala kekurangan yang dimiliki akhirnya dengan niat yang tulus penulis memberanikan diri untuk mengungkapkannya dalam bentuk tulisan sebagaimana dipaparkan berikut ini.

2.TUMPEK WARIGA/UDUH/PENGATAG/PENGARAH
Pada Tumpek Wariga ini umat sedharma melakukan persembahyangan dengan menghaturkan sesajen yang ditujukan kehadapan Sang Hyang Sangkara sebagai manifestasi Tuhan dalam menciptakan tumbuh-tumbuhan dengan doa agar tumbuh-tumbuhan tumbuh subur dan mendatangkan hasil yang berlimpah. Disamping hasil yang berlimpah juga diharapkan mampu menghasilkan dampak positif bagi kehidupan dan kelangsungan kehidupan di bumi ini dengan segala isinya.

Perayaan Galungan dan Kuningan pada dasarnya dimulai saat Tumpek Pengarah atau Tumpek Uduh yang diwarnai dengan pembuatan bubur putih yang diperuntukan bagi pohon-pohonan terutama yang buahnya bermanfaat bagi manusia dan berguna untuk keperluan sesajen seperti Pohon Pisang, Kelapa dan lain-lainnya. Pada saat menghaturkannya pada umumnya dilantunkan Sehe seperti mantram namun bukan mantram yaitu “ Kaki-kaki buin selai lemeng Galungane mangde mebuah ngeed, ngeed ngeed “ Begitulah kurang lebih kumat-kamitnya saat menghaturkan sesajen berisi bubur di depan pohon-pohonan.

Tumpek Pengarah dimaknai sebagai Pemberitahuan. Pengarah asal katanya arah mendapat awalan pe menjadikannya kata kerja yang maknanya memberikan arahan. Kata Uduh diperuntukan bagi kata pembuka bagi perintah -perintah yang sifatnya nasehat seperti kata “ Uduh Cening “ yang sering diucapkan oleh Tetua-tetua Bali kepada anak-anaknya.

Siapa yang diarahin, siapa lagi kalau bukan diri kita sendiri. Secara gamblang yang dimaksudkan adalah memberi tahu diri sendiri untuk menyadari akan kehadiran kita di dunia fana ini. Untuk apa kita lahir dan kemana kita selanjutnya. Penyadaran diri dimulai dengan menerawang akan kehadiran kita yang dilambangkan sebagai bubur putih asupan bayi yang baru lahir untuk menyadari dengan siapa saja kita hadir di dunia fana ini.

Sebutan Kaki ( Kakiang/Kakek) sebagai simbul atau isyarat bahwa tumbuh-tumbuhan ( Eka Pramana) lebih tua dari kita yang berarti pula lebih dulu ada, oleh sebab itu kita wajib menghormati dan mengasihi sekaligus memberikan kasih sayang. Tanpa kehadiran mereka kita tidak mungkin bisa hidup oleh karena demikian kita juga berhutang budi padanya yang berarti pula kita harus bayar melalui yadnya dalam berbagai bentuk.
Dengan demikian pada tumpek Pengarah ini kita mesti menginstrofeksi diri agar tumbuh kesadaran diri akan makna hidup berdampingan dengan seisi alam semesta ini. Kita mesti menyadari dan mencari jawaban untuk apa Tuhan menciptakan semua ini kalau memang tiada maksudnya.

3.SUGIHAN JAWA
Sugihan bermakna kekayaan dalam diri yang berarti kewidyatmikan. Kemampuan untuk memahami sekaligus merasakan sesuatu secara bijak dan murni apa adanya tanpa muatan ego atau keakuan. Jawa yang berari Jabe yaitu di Jabe atau di Luar, di luar diri. Jadi kemampuan untuk memperlakukan segala sesuatu yang ada di luar diri secara bijak dan murni yaitu tulus ikhlas dan penuh kasih sayang. Ini disebut dengan tindakan dharma.

Tindakan dharma adalah semua tindakan tanpa dilandasi rasa pamrih atau mengharapkan imbalan. Tindakannya spontan semata-mata karena kewajiban atau kehendakNya. Tindakan yang dilandasi dengan pamrih/mengharapkan imbalan termasuk mengharapkan Pahala disebut dengan Karma, karena semua karma pada akhirnya berbuah (Phala). Karma baik akan berbuah kebaikan demikian pula sebaliknya. Sedangkan tindakan dharma akan menuntun kita kearah pencerahan diri, yang sebelumnya gelap lama kelamaan menjadi terang. Ibarat logam yang sebelumnya berkarat kalau digosok terus akan mengkilap dan memantulkan cahaya. Cahaya inilah akan membuat terang baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan dimanapun kita berada.

Jadi pada saat Sugiah Jawa kita diharapkan mencapai tingkat kesadaran murni akan semua yang ada di luar diri. Dengan penghayatan bahwa Narayan ewedam sarwam yang secara harfiah berarti bahwa Beliau ada dimana-mana termasuk di dalam semua ciptaannya, maka kesadaran ini akan tumbuh. Hanya Nama dan Rupa atau Bentuk yang membedakannya namun esensinya tetap sama yaitu Beliau sendiri. Nama dan Rupa hanya konsumsi bagi pikiran yang sifat dasarnya selalu memberinya nilai. Kalau sudah menyangkut nilai maka hukum dualitas mulai berlaku yang mengaburkan nilai murninya, karena nilai adalah kesepakatan pikiran. Pikiran akan berkutat tetap di alam pikiran dan tidak akan mampu menjangkau Beliau karena Beliau sendiri Tak Terpikirkan.

Secara sekale pada hari Sugihan Jawa umumnya kita melakukan upacara penyucian Bhuana Agung dengan berbagai bentuk upacara yadnya, namun sebagai pribadi pada Sugihan Jawa kita mensyukuri apa yang ada di luar diri dengan menjaga, memelihara, menyayangi, menghormati sekaligus menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis dengan berbagai bentuk/rupa yang yang ada di luar diri. Bila kita memancarkan cahaya cinta maka semuanya akan membalasnya dengan cinta dan kasih sayang.

4.SUGIHAN BALI
Sugihan Bali dimaknai sebagaimana juga pada hari Sugihan Jawa. Bali dimaknai sebagai Wali atau Mewali atau Kembali, kembali ke dalam diri. Pada Sugihan Jawa kita diharapkan mampu meningkatkan kesadaran akan hal-hal yang ada di luar diri, maka pada Sugihan Bali kita diharapkan juga dapat meningkatkan kesadaran diri akan Jati Diri. Siapa sebenarnya Aku ini, pertanyaan itulah yang kita upayakan untuk menemukan jawabannya.

Guru kami Yang Shri Maha Swadava menjelaskan bahwa tubuh kita terdiri dari 3 (tiga) dimensi nama dan rupa yaitu Badan Raga yang dapat dilihat dengan kasat mata yang bisa merasakan lapar, sakit atau segar bugar. Badan Jiwa yang tidak kasat mata dengan mata biasa tempat bersemayamnya pikiran, ego, rasa dan buah karma. Badan ini dapat merasakan sakit yang disebut dengan sakit jiwa. Meskipun badan raganya sudah ditinggalkannya badan ini tetap memiliki kesadaran jiwa dan berproses mengikuti siklus reinkarnasi. Dan yang terakhir adalah Badan Atman/Ruh yang merupakan jati diri yang sebenarnya yang diliputi kesadaran yang murni yaitu Tuhan sendiri.

Setiap badan mempunyai susunan cakra yang berbeda-beda. Bila kita sudah mampu mengatifkan cakra badan, kita belajar akan ilmu kekebalan yang membuat tubuh sehat dan seimbang secara lahir. Bila sudah mampu mengatifkan cakra jiwa kita akan belajar ilmu kebathinan untuk ketenangan yang sifatnya bathiniah, dan bila cakra Atman/Ruh yang diaktifkan maka kita akan belajar diri murni yang sejati yang menyangkut kebebasan akan keterikatan duniawi.

Kekuatan cakra badan ibarat air. Bila kita mempunyai sebotol air dan kita berikan kepada orang lain maka kemungkinan air itu akan habis dan kita sendiri menjadi kelelahan dan mengumpulkan air kembali. Kekuatan cakra jiwa ibarat api. Bila besar api sebesar api lilin kita berikan kepada orang lain sebanyak berapapun maka api itu tidak akan pernah habis, namun besar api lilin tetap seperti semula sebelum diberikan kepada orang lain. Kekuatan cakra atman/ruh ibarat cahaya/sinar (Nur), bila cahaya ini diberikan kepada orang lain maka muncul pantulan/sumber cahaya di tempat lain dan membuat kegelapan semakin terang. Semakin banyak diberikan kepada orang lain maka sumber sinar akan semakin membesar dan membuat terang benderang. Itulah tingkatan berbagai kesadaran, dan pada hari Sugihan Bali kita diharapkan mampu mengevaluasi diri sejauh mana sudah menggapainya untuk selanjutnya mencoba membuat target kesadaran mana yang akan dituju.

Secara sekale pada hari Sugihan Bali umumnya umat sedharma melakukan penyucian diri dengan berbagai ritual seperti mandi suci atau melukat, metirta yatra ataupun dengan berpuasa dengan berbagai tingkatan puasa maupun dengan cara-cara lainnya.

5.PENYEKEBAN
Penyekeban yang asal katanya Sekeb berarti dieram, seperti nyekeb buah pisang agar menjadi matang. Pada hari ini diharapkan kita mampu nyekeb kesadaran murni sebagaimana diuraikan pada Sugihan Bali. Tat kala kesadaran murni mampu kita rasakan maka pada hari penyekeban agar selalu dijaga agar tidak terpengaruh dengan hal-hal yang membuat kesadaran murni tersebut sirna kembali. Pengaruh terbesar adalah menghadapi ulah pikiran yang memang sifatnya tidak pernah diam, dia selalu bergerak kesana-kemari ibarat seekor kera yang lompat sana-sini.

Salah satu cara untuk mengendalikan pikiran adalah dengan secara terus menerus focus pada apa yang kita sedang lakukan. Jangan sampai kita sedang bekerja di tempat kerja namun pikiran kita berada di rumah. Itu artinya pikiran kita sedang jalan-jalan dan atman/ruh kitapun akan mengikutinya dengan setia kemanapun pikiran sedang pergi yang berarti pula badan raga kita ibarat rumah tanpa penghuni yang gampang dimasuki oleh hantu maupun kekuatan lainnya yang menjadikan tubuh kita mudah terserang penyakit.

6.PENYAJAN
Penyajan yang sebagaimana dimaksud dalam Bahasa Bali artinya hari dimana masyarakat sedang membuat jajan sebagai kelengkapan dalam pembuatan sesajen atau upakara dalam menyambut hari raya Galungan. Jajan sebagaimana kita ketahui umumnya terbuat dari tepung baik bahan dasarnya beras, ketan maupun terigu atau bahan pangan lainnya. Setelah tepung diolah sedemikian rupa barulah dibentuk sesuai dengan yang diinginkan kemudian baru dimatangkan.

Kalau demikian apa makna penyajan kalau kita hubungkan dengan diri sendiri? Pada hari Penyekeban kita diharapan mampu mengekang dan mengendalian keinginan dan ego yang tidak sesuai dengan sifat-sifat keilahian atau Sang Ruh Suci (Kudus) sehingga kesadaran murni tetap terjaga, maka usaha untuk mempertahankan inilah membuat kita menjadi lebih matang dan siap masak (ibarat buah-buahan) melalui penyekeban sebelumnya dan siap pula dijadikan apa saja selanjutnya sesuai dengan keperluan/jajan.

Jadi pada hari Penyajan Galungan ini kita dihapkan mampu mempertahankan kesadaran murni dari berbagai rayuan pikiran dan siap untuk melaju ke depan dalam menghadapi berbagai cobaan duniawi.

7.PENGEJUKAN
Pengejukan (Bahasa Bali) secara harfiah diartikan mengkondisikan binatang yang akan dijadikan upakara/Kurban (seperti Babi, Ayam, Itik, Kerbau dan lain-lainnya) misalnya dikandangkan atau diikat sehingga pada saatnya tinggal mengambil saja untuk selanjutnya dipotong.

Jadi apa makna pengejukan dalam kesadaran diri? Apanya yang diejuk? Yang dimaksudkan disini adalah bila kesadaran murni telah sampai pada tahapan sebagaimana diuraikan saat Penyajan, maka diharapkan mampu untuk mengikat berbagai bentuk produk dari pikiran seperti rasa keakuan/ego, nafsu birahi, amarah, kebencian, irihati, ketamakan dan berbagai bentuk keterikatan akan duniawi. Pada tahap ini diharapkan mampu membedakan mana aku yang sebenarnya (diri murni) dan mana pikiran. Ini memang sulit, namun yakinlah kita sedang dalam proses. Suatu saat bila kita latih dan lakoni secara terus menerus dibawah bimbingan orang bijak (Guru) yang tepat, maka pada tahapan ini Tuhan pasti memberi jalan bila kita bersungguh-sungguh.

Cara membedakan mana pikiran dan mana tidak pada tahap dasar adalah dengan memahami dengan benar dan melakoninya mana itu kebutuhan dan mana keinginan. Contoh kecil kalau lapar butuh makan, apapun yang membuat kenyang perut dan tidak lapar itulah kebutuhan. Demikian sebaliknya kalau belum makan Gule dan Sate Kambing baru merasa kenyang itulah keinginan. Jadi yang lapar bukan perutnya melainkan lidah dan mulutnya. Tubuh butuh pakaian untuk melindungi tubuh dari kedinginan/kepanasan dan kemaluan, sepanjang itu bersih dan bentuknya sopan sebenarnya sudah cukup, lain halnya kalau belum menggunakan merk ternama rasanya belum berpakaian. Banyak lagi contoh untuk membedakan pikiran yang banyak maunya dengan diri murni yang hadir apa adanya. Mengikuti pikiran akan melahirkan keterikatan dan bila mengikuti diri murni akan melahirkan pembebasan akan keterikatan duniawi.
Musuh utama kalau sudah begini adalah pujian, semakin senang kita dipuji maka kita semakin dikuasai pikiran dan membuat kita akan sengsara. Mohon disadari apapun yang kasat mata yang kita saksikan di dunia ini semuanya belum pantas untuk dipuji, hanya satu yang pantas untuk dipuji yaitu Tuhan sendiri. Kalau kita senang dipuji berarti kita telah merampok hak Tuhan. Kalau kita dipuji ada baiknya kita sampaikan “ Suksme “ semoga Tuhan memberkatinya, dan saudara kita yang muslim menyebut Alhamdullillah yang artinya hanya Allah yang mempunyai hak terpuji. Suka dipuji akan menyuburkan rasa keakuan dan kita akan dikendalikan oleh pikiran dan kesadaran murni akan semakin sirna.

Demikianlah tantangan pada Hari Pengejukan, yang pada hari itu kita diharapkan telah mampu mempertahankan kesadaran diri murni dan membedakan mana pikiran dengan berbagai produknya dan mana diri kita yang sebenarnya, ibarat akan maju perang maka kita terlebih dahulu harus mengenali dengan baik mana teman dan mana lawan/musuh.

8.PENAMPAHAN GALUNGAN
Pada hari Penampahan Galungan umat sedharma secara umum memotong hewan Babi dan diolah ke dalam berbagai bentuk masakan, seperti Lawar, Komoh, Sate, Penyon, Tum, Remikan, Urutan dan lain-lainnya untuk di konsumsi bersama keluarga dan saling Ngejot dengan saudara maupun tetangga. Disamping itu pula juga dipakai pelengkap sesajen khususnya yang dihaturkan ke Teben (Banten Teben) agar tidak diganggu oleh Sang Kala Tiga Galungan. Beberapa tempat juga dihaturkan kepada Leluhur, Bethara Hyang dan Bethara-Bethari.

Pada hari itu dalam seharian perut kita dimanjakan dengan berbagai bentuk masakan yang pada umumnya berasal dari daging Babi. Ini sudah mentradisi bagi penulis semenjak ingatan terekam di memori otak memang sudah seperti itu sampai sekarang dan muncul pertanyaan kenapa bukan daging yang lainnya kenapa mesti daging Babi. Apa makna hewan babi dan apa makna penampahan galungan dan apa sekedar persiapan konsumsi untuk hari raya Galungan besok harinya ? Berbagai pertanyaan muncul bila menjelang hari Penampahan Galungan.

Pada akhirnya setelah penulis belajar sedikit sepiritual dan menanyakan kepada Guru, beliau mengatakan bahwa Hewan Babi secara universal disepakati sebagai simbul “ Kebodohan “ sebagaimana sifat-sifat Babi kalau didorong disuruh maju malahan dia mundur, namun tat kala kita hadang dari depan malahan menggigit. Kalau kenyang dia tidur dan kalau lapar dia ribut minta makanan, maunya cuma makan dan tidur. Nah kalau sifat ini dimiliki manusia ia akan malas cuma mau enaknya saja, disuruh maju malahan dia mundur dan bila dituntun dari depan disuruh mengikuti malahan tidur, bila dimarahi dia akan mencelakai.

Jadi penulis memaknai bahwa pemotongan hewan babi tat kala Penampahan Galungan adalah sebagai simbul kita melawan kebodohan. Kebodohan yang dimaksudkan adalah berbagai bentuk karya pikiran yang bertentangan dengan sifat-sifat Diri Murni/Atman/Ruh, sebagai mana diuraikan pada hari Penyajan. Secara umum dimaknai pertempuran Dharma melawan Adharma.

Itulah sasaran utama yang diharapkan mampu kita capai pada hari Penampahan Galungan, dimana kesadaran murni telah mampu menguasai pikiran yang sebelumnya pikiran yang mengendalikan kita maka pada hari itu telah berbalik yaitu kitalah yang mesti menguasai pikiran sekaligus mengendalikannya. Jadi kita ambil alih tongkat komando dan sebagai simbul kemenangan ini pada sore harinya kita pancangkan Penjor sebagai simbul kemenangan dan Natab banten Penampahan Galungan sebagai wujud bersyukur.


9.GALUNGAN
Sehari setelah hari Penampahan Galungan yaitu pada Hari Rabu (Bude Keliwon, Wuku Dunggulan) umat sedharma merayakan Hari Raya Galungan, yang selama ini dipahami sebagai hari kemenangan dharma melawan adharma. Sebelum matahari terbit para Ibu-ibu sibuk menghaturkan sesajen mulai dari tempat ibadah yang ada di rumah sampai kahyangan Desa, bahkan sampai di Pura Subak, Kantor maupun tempat-tempat lainnya dimana kita mencari rezeki. Semua anggota keluarga melakukan persembahyangan bersama khususnya di tempat pemujaan para leluhur baik di Pemerajan, Pura Dadia maupun Pura Kawitan lainnya sebagai wujud syukur.

Kebiasaan tersebut telah menjadi kebiasaan bila saatnya Hari Raya Galungan tiba, yang lama kelamaan dikhawatirkan pelaksanaannya secara ritual begitu semarak namun miskin akan makna. Ditambah lagi prilaku generasi kita belakangan ini lebih mementingkan seremonialnya dari pada upaya peningkatan kwalitas diri. Beberapa hari menjelang hari raya, sebagian besar generasi kita membuka Bazar berkedok penggalian dana. Namun apa yang sebagian besar makna yang didapat hanyalah merupakan acara hura-hura dengan mengadopsi budaya asing. Belakangan ini bukannya nyanyian rohari yang berkumandang saat hari raya, malahan musik-musik barat yang kadang-kadang telinga kita terasa budek mendengarnya.

Sepertinya nilai-nilai luhur sepiritual yang penuh kedamaian semakin jauh diganti dengan nilai-nilai yang penuh dengan dinamika eksotik, hingar bingar diselimuti emosi dan sifat-sifat Rajas. Namun yang membuat kita semakin prihatin kita tidak mampu membendungnya akibat kemajuan teknologi informasi yang menggelobal. Kalau sudah demikian bagi yang menyadari hanya bisa berpasrah diri seraya memanjatkan doa semoga saja umat manusia ke depan akan segera menyadari betapa pentingnya menyelaraskan diri baik kepada Tuhan, antar sesama maupun dengan alam semesta dengan segala isinya agar manusia masa depan dapat hidup damai dan jagadhita. Bukan saling bermusuhan maupun berlomba-lomba unjuk ego dengan merusak isi alam semesta raya ini.

Selanjutnya kembali kepada pelaksanaan hari raya Galungan sebagaimana disinggung sebelumnya yang merupakan hari perayaan kemenangan dharma melawan adharma, maka puncak peperangan dan dinyatakan menang adalah pada saat hari Penampahan Galungan, dimana kita telah mampu menguasai diri dan mampu memerintah dan mengendalikan pikiran. Kemenangan pada saat itulah pada esok harinya dirayakan. Kenapa perayaan ini disebut Galungan? Penulis memaknai dari kata Galungan tersimak arti “Galang”, sedangkan galang (Bahasa Bali) berarti terang seperti cuaca terang atau cerah. Apanya yang terang atau cerah, tiada lain adalah suasana bathin kita yang terang setelah menang dalam pertempuran. Tat kala kita telah mampu menguasai, mengendalikan dan memerintah pikiran maka bathin kita menjadi hening, hening inilah menuntun kita kearah kehidupan yang serba terang dan dari luar secara kasat mata maka wajah kita selalu diselimuti kecerahan baik dikala duka apalagi suka akan selalu bercahaya membawa suasana kedamaian bagi siapapun berada didekatnya, bak cahaya ditengah kegelapan.

10.UMANIS GALUNGAN
Pada umumnya pada hari Umanis Galungan yaitu H+1, umat sedharma saling kunjung mengunjungi antar saudara dan handai taolan untuk mempererat tali persaudaraan.Di beberapa tempat pada hari ini masih dilaksanakan persembahyangan bersama karena ada Upacara Piodalan di Pura, baik tingkat Tri Kahyangan, Dang Kahyangan maupun Sad Kahyangan.

Kemudian makna apa yang tersirat pada hari Umanis Galungan? Umanis merupakan hari pertama perhitungan Panca Wara, yang berarti pula hari pertama untuk melakoni makna apa yang dirayakan sebelumnya. Kesadaran diri murni harus tetap dipertahankan dan dijadikan sumber dalam memerintah pikiran, berucap dan berbuat. Hal ini memang sulit, namun suatu pijakan dapat ditanam dalam hati dalam-dalam yaitu semua pengalaman hidup sebelumnya kita harus ihklaskan jangan sampai meracuni atau menggelapkan kesadaran murni yang ada. Anggap saja kita sedang bermain sinetron bahwa semua itu hanyalah lakon yang mesti diperankan selama ini. Lascarye-lah karena semua itu sudah lewat. Anggap saja kita baru saja lahir dan hadir di muka bumi ini dan pikiran kita terus difokuskan pada saat ini, di sini dan sekarang, selalu sekarang dan di sini, lagi sedang apa kita sekarang. Fokuskan pada kegiatan jangan sampai pikiran diganggu yang mengakibatkan melamun yang membuat keterpisahan antara raga dengan pikiran. Bagi yang Atman/Ruhnya belum bangkit maka dengan mudah dibawa pikiran kesana kemari yang mengakibatkan badan raga kita kosong dan kesadaran murni akan lenyap. Jangan memikirkan yang nanti atau besok atau masa depan dengan berbagai hayalan karena semuanya itu penuh dengan ketidakpastian.

Cita-cita boleh saja ditetapkan namun jalan menuju cita-cita itu haruslah pokus sekarang yang terpenting jalan tersebut telah menuju ke sasaran cita-cita itu. Biarkan cita-cita itu hanya tujuan, tentang sampai atau tidak pada cita-cita itu biarlah Hyang Kuasa menentukannya. Ibarat kita menuju Kawasan Wisata Bedugul maka fokus pikiran sejak berangkat haruslah sekarang misalnya sedang naik motor atau mobil. Fokuslah pada kendali kendaraan kita biar tidak salah arah maupun menabrak kendaraan lain. Bila sebaliknya dalam sepanjang perjalanan pikiran kita sudah di Bedugul maka kemungkinan besar kendaraan dari depanpun tidak akan kita sadarari dan kemungkinan menemui kecelakaan sangatlah besar. Jadi untuk nanti, besok atau tahun depan haruslah berpasrah diri karena kalau kita pikirkan terus itu tidak lebih dari ilusi pikiran yang mebuat kita tidak percaya diri. Pastikan dalam diri bahwa cita-cita tercapai, namun kapan tercapainya pasrahkan kepadaNya.

Bila kesadaran murni tetap terjaga sebagaimana dicapai saat kemenangan maka hidup ini akan menjadi indah dan damai serta alampun sepertinya menyapa dengan penuh kasih sayang. Kita mulai dapat menangkap energi kosmis yang menyeliputi diri kita. Sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui akan muncul jawaban dari dalam, bila kita peka menangkap sinyal-sinyal yang muncul dari keheningan yang tercipta.

11.PEMARIDAN GURU
Pada hari Pemaridan Guru, umat sedharma mengahaturkan sesajen kehadapan Hyang Widhi dengan doa agar selalu mendapat perlindungan dalam melaksanakan dharma. Namun pada hari ini tidak nampak kemeriahan seperti pada hari Raya Galungan maupun pada hari Umanis Galungan. Pemaridan Guru merupakan rangkaian dari Hari Raya Galungan itu sendiri.

Selanjutnya apa makna yang tersirat pada hari tersebut, bila dikaitkan dengan prosesi atau rangkaian Hari Raya Galungan? Tidak banyak literature yang ada untuk menjelaskannya kecuali pelaksanaan yadnya atau ucapan terimakasih kehadapan Hyang Widhi atau kehadapan para Leluhur.

Pemaridan Guru menurut penulis secara harfiah kalau dilihat dari kata Pemaridan atau Memarid (kata kerja) berarti memohon dan mengambil berkah yang disimbulkan dengan mengambil kembali (Ngelungsur) banten/sesajen yang telah dihaturkan. Banten yang biasanya berisi buah dan kadang-kadang berisi daging ayam atau itik langsung bisa dimakan sebagai simbul berkah Hyang Maha Kuasa. Sedangkan Guru disini adalah Guru dari segala Guru yaitu Tuhan itu sendiri. Karena atas karunia Beliau sehingga kita telah mampu meningkatkan kwalitas diri.

Jadi berkah apa yang kita dapat bila dikaitkan dengan diri pribadi? Tiada lain adalah berkah berupa kemampuan diri sendiri telah mampu merasuki jati diri yang sebenarnya yaitu baru sebatas mencapai kesadaran murni sebagai mana dijelaskan pada saat hari kemenangan. Namun satu hal yang harus kita lakukan adalah dalam menjalankan atau menjaga kesadaran murni ini haruslah kita mencari pembimbing atau Guru sekale, karena tanpa pembimbing maka kita bisa saja salah arah. Sedikit orang yang mampu berguru pada Guru niskale, kecuali memang mereka sejak lahir telah banyak menunjukkan kemuzizatan.

Guru sekale memegang peranan amat penting tat kala kita mulai mampu menjaga kesadaran murni. Atas bimbingan guru kita dapat dengan terarah menggali kesadaran murni tersebut dengan menelusuri keheningan melalui pengosongan diri. Apalagi Guru tersebut mampu membukakan cakra Ruh/Atman, maka cara cepat mengembalikan kesadaran murni segera dapat dilakukan.
Oleh karena demikian segala berkah dari Hyang Maha Kuasa dan bimbingan Guru Sekale, pada hari Pemaridan Guru ini wajib hukumnya untuk bersyukur dan sujud bhakti kepada Guru. Meskipun Guru sekale berupa manusia biasa bila kita telah sampai di kesadaran murni, kita bersujud dihadapannya bukanlah suatu pemberhalaan. Jangankan berbentuk manusia, batupun bila kita sujud didepannya bukanlah kita menyembah berhala. Karena pada saat sujud yang berpadu itu adalah hati dengan hati, tidak tergantung apapun yang ada di depan kita. Maka egopun akan sirna. Oleh karena demikian sudah wajib hukumnya kita sujud kepada Guru, Orang Tua dan yang lebih tua dari kita dan kalau kita mampu sujudlah kepada semua orang tanpa memandang Bentuk/Rupa, Nama maupun embel-embel sosial lainnya maupun terhadap se isi alam semesta ini. Karena pada dasarnya kita sujud terhadap siapa yang ada pada inti paling dalam dan hakiki yang ada di dalam bentuk maupun rupa tersebut (Narayand Ewedam Sharwam). Kalau hal ini mampu kita lakukan dengan ihklas dan spontanitas hanya semata-mata karena dharma, maka kita akan menjadi orang yang rendah hati namun bukan rendah diri. Egopun akan semakin menjauh dari diri kita.

Pada kesempatan ini penulis perlu menyampaikan tentang Berhala, agar kita tidak tersesat dengan pemahaman Berhala yang secara umum dipahami oleh masyarakat selama ini, bahwa berhala itu berupa batu, patung maupun pretima yang sering digunakan sebagai media pada persembahyangan di kalangan umat Hindu. Yang sebenarnya disebut dengan Berhala adalah sesuatu bentuk bayangan yang muncul sebagai akibat dari persepsi pikiran saat kita mulai memejamkan mata di saat sembahyang. Bentuk bayangan itulah disebut Berhala, karena Tuhan sendiri tidak seperti bentuk yang kita bayangkan. Pikiran hanya sebagai alat Bantu saat mulai konsentrasi, selanjutnya hatilah yang berbicara. Janganlah berhubungan dengan Tuhan melalui pikiran, karena Tuhan sendiri tak terpikirkan seperti yang telah dijelaskan.



12.ULIHAN GALUNGAN
Pada saat hari Ulihan Galungan umat sedharma kembali menghaturkan sesajen kehadapan Bathara-Bathari dan Hyang Widhi guna memohon waranugrahanya baik kepada umatnya maupun kelestarian alam semesta.

Ulihan (Bahasa Bali) berarti kembalikan, Ulihan Galungan secara harfiah diartikan kembalikan Galungan. Yang dimaksudkan adalah kembalilah kepada kondisi Galang/terang atau hening seperti saat Hari Kemenangan. Setelah mendapatkan berkah dari Guru Agung dan petunjuk Guru Sekale agar kembali kepada kondisi bathin saat Hari kemenangan dan diupayakan terus dipertahankan dengan mengarahkan pikiran selalu kepada hal-hal yang positif dan menerima apa adanya setiap kondisi yang menimpa kita. Kalau lagi bahagia terimalah itu semata-mata karenaNya demikian sebaliknya tat kala lagi sedih terima juga apa adanya karena semua itu semata-mata sedang melaksanakan peran dari skenario agung dariNya. Kita harus menyadari bahwa Umat PilihanNya adalah insan-insan yang tangguh dalam menghadapi tantangan dan cobaan hidup. Tidak mudah menyerah maupun putus asa, sabar dan tidak mengeluh.

Tidak mengeluh adalah tingkatan utama dalam pengendalian diri. Untuk mencapai tingkatan ini, kebanyakan ditempuh mulai dari puasa dengan tidak makan maupun minum, kemudian puasa pengendalian kemarahan maupun hawa nafsu. Tingkatan selanjutnya adalah tidak mudah untuk minta tolong maupun memohon termasuk memohon kepadaNya. Kita mesti banyak memberi, buka meminta maupun menerima. Meminta maupun memohon berari kita masih kekurangan. Orang yang kekurangan atau selalu merasa kurang sebenarnya orang miskin. Kalau termasuk orang miskin jangan harap dapat memberikan bantuan. Kaya dan miskin disini berarti dalam pengertian luas bukan hanya menyangkut material dunia. Mohon dapat dibedakan orang yang kaya hati dengan miskin hati atau orang kaya kasih sayang dengan miskin kasih sayang!


13.PEMACEKAN AGUNG
Pada saat Hari Pemacekan Agung umat sedharma kembali menghaturkan sesajen yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta di halaman rumah dan di Kahyangan agar umat tidak diganggu oleh Sang Kala Tiga Galungan.

Makna apa yang dapat kita petik dari Hari Pemacekan Agung serangkaian dengan hari-hari sebelumnya khususnya setelah Hari Ulihan Galungan? Kata Pemacekan asal katanya kuirang lebih dipasakan atau dipakukan. Pacek (Bahasa Bali) sama dengan pasak agar sesuatu menjadi kuat dan menyatu. Kemudian apanya dipasak? Tiada lain adalah kesadaran murni saat hari kemenangan agar selalu menguasai diri, bukan lagi didominasi oleh penguasaan pikiran. Sehari-hari identik dengan perkataan dan perbuatan yang bersumber dari hati nurani, namun yang dimaksudkan jauh lebih dalam dari sekedar hati nurani. Namun secara bertahap dan berproses tahapan itu pasti tercapai bila diupayakan secara berkesinambungan.

Dalam hal ini ditekankan untuk berkomitmen bahwa kemenangan yang telah dicapai mesti harus dipertahankan dan terus ditingkatkan kwalitasnya. Mulai dari Hari Pemacekan Agung kita berupaya untuk lebih berkotemplasi guna mendekatkan diri kepada Hyang Agung (Ruh Agung) atau yang kita kenal dengan sebutan Ida Sanghyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa. Kontemplasi saat berpikir, berkata dan berbuat didasari oleh kesadaran murni bahwa semuanya menyatu, bukan terpisah. Contoh kecil dapat disampaikan disini seperti saat berkerja. Pikiran, perkataan dan apa yang dikerjakan semuanya menyatu, jangan sampai ditempat kerja, pikiran kita kemana-mana tidak pokus pada apa yang dikerjakan. Ini berarti Ruh kita yang masih tertidur lelap akan dibawa oleh pikiran seperti yang dijelaskan sebelumnya. Melalui kesadaran murni inilah sebenarnya kita sedang membangunkan Ruh kita agar bangkit dan mengendalikan aktivitas kita. Ruh yang mulai sadar dan siuman dari tidur mesti harus dipertahankan jangan sampai tertidur kembali. Karena pada saat ini merupakan moment yang sangat sulit. Ibarat yang baru bangun tidur apalagi dalam tidurnya bermimpi indah akan kepingin pulas kembali menharap mimpi tadi berlanjut.
Oleh karena demikian kita mesti berjuang dengan selalu tegar agar tidak tertidur kembali dengan tetap mempertahankan kesadaran murni yang telah dicapai.

14.KUNINGAN
Hari Raya Kuningan yang jatuh pada hari Sabtu Keliwon Wuku Kuningan adalah hari yang ditunggu-tunggu setelah merayakan Galungan. Jarak Galungan dengan Kuningan adalah sepuluh hari kalender. Umat sedharmapun kembali berbondong-bondong melakukan persembahyangan bersama. Sesajen yang umum dibuat pada Hari Raya tersebut adalah Nasi Kuning yang dihaturkan kehadapan Bathara-Bathari dan Ida Sanghyang Widhi baik di rumah yaitu di Pemerajan maupun di kahyangan. Itu semuanya telah dilakukan sesuai dengan pakem yang telah ditentukan dan semua itu bermakna sebagai ucapan terima kasih kepada Hyang Maha Agung atas anugrah yang telah dilimpahkan. Akhir-akhir ini ada himbauan agar pelaksanaan persembahyangan/upacara agar dilakukan sebelum jam 12 siang. Entah apa maknanya ? dan apakah setelah jam 12, Tuhan itu tidak lagi menerima persembahan maupun doa umatnya? Hal ini perlu dijelaskan kepada kita semua oleh instansi/lembaga yang berwenang.

Selanjutnya mari kita maknai Kuningan itu lebih dalam. Bagaimana dengan Bhuana Alit yaitu bagi diri sendiri? Apa yang mesti digali pada hari raya tersebut?
Kuningan lebih dekat dengan kata “keuningan”(Bahasa Bali) yang asal katanya “uning” yang berarti tahu atau mengetahui. Pertanyaannya, tahu atau mengetahui tentang apa atau siapa? Kalau kita kembali pada hari Pemacekan Agung sebelumnya yang saat itu kita telah berupaya berkomitmen untuk menjaga tetap ajegnya kesadaran murni dalam diri kemudian kesadaran murni itu menguasai sebagian besar kendali atas diri, maka pada hari raya Kuningan Ruh atau Atman kita sendiri akan tahu dan nampak (ini tergantung dari kemajuan masing-masing diri pribadi). Ruh/Atman itu berwujud sama seperti wujud sekale diri pribadi. Yang membedakannya sang Ruh/Atman selalu memakai pakaian jati diri sesuai dengan kesenangan sang Ruh/Atman. Ada yang suka kuning, putih, oranye, ungu, hitam, jingga dan warna lainnya. Itulah jati diri kita, diri yang murni apa adanya.
Mengenai Ruh atau Atman kita teringat akan ayat Wedha yang mengatakan “ Brahman Atman Aikyam “ yang kurang lebih artinya Brahman (Tuhan) dan Atman/Ruh itu tunggal. Berangkat dari pengertian itu maka para Tetua kita sering mengatakan bahwa “ Widhine ade di Deweke ‘ yang artinya Tuhan itu ada di dalam diri. Juga sering dikatakan bahwa Tuhan yang berwujud itu adalah Ruh/Atman kita, sedangkan Tuhan Yang Universal tiada berwujud.

Pengertian-pengertian tersebut baru akan dipahami dengan betul bila kita telah mengalami bukan dari mendengar apa yang dikatakan orang. Kalau mendengar itu baru sampai pada tingkatan keyakinan yang memerlukan pembuktian. Sedangkan pembuktian haruslah dilakukan oleh diri sendiri. Beda dengan yang sudah mengalami, mereka tidak butuh lagi keyakinan, karena keyakinan masih menyisakan ketidakpastian.

Bila saat Hari Kuningan ini kita telah mampu melihat dengan mata bathin akan keberadaan Ruh/Atman kita sendiri suatu pertanda pendakian sepiritual kita telah mengalami kemajuan pesat dan tidak sembarang orang mampu mencapai tingkatan ini. Bila hal ini kita mampu capai tentunya atas tuntunan Sang Guru, maka mulai saat itu diharapkan terus melakukan komunikasi bathin agar badan raga yang bermuatan karma ini sebagian besar dikendalikan oleh sang Ruh/Atman atau selalu dalam keadaan kotemplasi sampai hari Bude Keliwon Wuku Pahang (Bude Keliwon Pegatwakan) yang jaraknya 25 hari dari Hari Raya Kuningan atau 35 hari kalender (Satu Bulan Bali) dari Hari Perayaan Kemenangan yaitu saat Hari Raya Galungan. Dalam rentang waktu itu bagi kita yang dalam proses pendakian sepiritual atau belum mampu berjumpa dengan Ruh/Atman diri sendiri diupayakan dengan melakukan puasa seperti tingkatan puasa yang telah disinggung sebelumnya tergantung kondisi masing-masing. Berpuasa dalam berbagai tingkatan merupakan salah satu upaya penyelarasan menuju sifat-sifat Ruh/Atman yang memang hadir apa adanya.



15.BUDE KELIWON PAHANG/PEGATWAKAN
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya saat perayaan hari kemenangan pada Hari Raya Galungan kemudian disusul dengan pendakian sepiritual seperti telah diuraikan maka pada Hari Bude Keliwon Wuku Pahang/Pegatwakan dengan meminjam istilah umat muslim pada hari tersebut disebut dengan Lebaran atau kita telah sampai kepada kondisi fitrah/fitri atau suci sebagaimana bayi baru lahir yang kedewan-dewan(Bahasa Bali) yang artinya kita lebih didominasi oleh sifat-sifat keilahian. Pada saat itulah kita baru di “Wakan” seperti pada permainan sembunyi-sembunyian kalau temen kita tidak ketemu kemudian di wakan atau disudahi atau lebar. Pegatwakan terdiri dari dua kata “Pegat” yang artinya putus dan “wakan” yang artinya kurang lebih disudahi. Jadi Pegatwakan lebih dekat berarti putus/selesai sampai disini. Ibarat Pendidikan dan Latihan (Diklat) pada hari ini adalah Hari Penutupan yang ditandai dengan pemberian Sertifikat telah mengikuti Diklat atau Tanda Kelulusan. Untuk selanjutnya kita praktekan apa yang didapat selama Diklat dalam melakoni hidup selanjutnya. Secara sekale pada umumnya umat sedharma mencabut Penjor yang kita pasang saat hari kemenangan yang tersirat makna bahwa nilai-nilai kemenangan itu akan menjadi motivator dalam menjalani hidup selanjutnya.

Kalau kita ingat kembali mulai kita sadar akan adanya hari raya keagamaan, maka selalu muncul pertanyaan, entah berapa kali hari raya sudah kita lewati namun perkembangan diri menuju hakikat hidup yang hakiki, mungkin kita masing-masing sudah tahu jawabannya. Tinggal sekarang tergantung komitmen diri apa yang menjadi ketetapan dalam hidup kali ini. Itu terserah kita memutuskan secara merdeka dengan menanyakannya ke dalam diri masing-masing.

semoga berguna bagi pembaca . Om cantih cantih cantih Om

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar